Jumat, 15 April 2011

Usaha Kecil dan Menegah (UKM)

BAB I
PENDAHULUAN

            Usaha Kecil dan Menengah disingkat UKM adalah sebuah istilah yang mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan  bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri. Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian usaha kecil adalah: “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.”
            Kriteria usaha kecil menurut UU No. 9 tahun 1995 adalah sebagai berikut: 1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- (Dua Ratus Juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha 2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (Satu Miliar Rupiah) 3. Milik Warga Negara Indonesia 4. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang tidak dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha menengah atau usaha Besar 5. Berbentuk usaha orang perorangan , badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi. Di Indonesia, jumlah UKM hingga 2005 mencapai 42,4 juta unit lebih. Pemerintah Indonesia, membina UKM melalui Dinas Koperasi dan UKM, di masing-masing Provinsi atau Kabupaten/Kota.
            Selama perkembangan usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia mendapat perhatian serius baik dari pemerintah maupun kalangan masyarakat luas, terutama karena kelompok unit usaha tersebut menyumbang sangat banyak kesempatan kerja dan oleh karena itu menjadi salah satu sumber penting bagi penciptaan pendapatan.
            Selain itu, UKM juga berperan sebagai salah satu sumber penting bagi pertumbuhan PDB dan ekspor nonmigas. Karena pentingnya tiga peran ini, maka secara metodologi,perkembangan UKM di dalam suatu ekonomi selalu diukur dengan tiga indikator, yakni jumlah L,NO atau NT dan suatu nilai X dari kelompok usaha tersebut, baik secara absolut maupun relatif terhadap usaha besar (UB).

BAB II
ISI

            Lebih buruknya kinerja UB dibandingkan UKM selama krisis bisa disebabkan oleh beberapa kemungkinan yang sebagian masih hipotesis (belum ada studi yang menguji kebenarannya hingga saat ini). Pertama, dibandingkan dengan UKM, tingkat ketergantungan UB terhadap impor (M) komponen, mesin dan peralatan produksi, bahan baku dan input lainnya jauh lebih tinggi. Depresiasi nilai tukar rupiah yang sangat besar terhadap dollar AS selama pertengahannya 1997 hingga 1998 membuat biaya M dalam rupiah menjadi sangat mahal. Akibatnya, banyak perusahaaan terpaksa mengurangi volume produksi atau mengehentikan kegiatan mereka karena tidak sanggup lagi membiayai M. Jatuhnya nilai rupiah juga mengakibatkan biaya utang luar negeri dalam rupiah menjadi sangat mahal, dan akibatnya banyak perusahaan, khususnya UB terjerumus ke dalam krisis ULN. Kedua, ketergantungan UB terhadap dana perbankan pada umumnya juga lebih tinggi dibandingkan dengan UKM, dan semasa krisis akses kredit perbankan sangat sulit, ditambah lagi dengan suku bunga pinjaman yang sangat tinggi pada saat itu. Akibatnya, banyak UB mengalami stagnasi. Oleh UKM pada umumnya ditujukan untuk kelompok masyarakat berpendapatan menengah ke bawah. Sedangkan UB lebih banyak membuat barang dan jasa untuk pasar papan menengah dan atas, yang kenyataanya lebih terpukul oleh krisis daripada pasar papan bawah. Ada sejumlah studi yang mencoba mendapatkan fakta empiris dari dampak krisis terhadap UKM di Indonesia.
            Variasi ini erat kaitannya dengan sifat alamiah yang berbeda anatrsektor. Ketersediaan input, kebutuhan dan ketersediaan persaingan antar sesama UKM dan antar sesama UKM dengan UB dan produk-produk impor.
            Secara teori, perbedaan kinerja UKM di sektor pertanian dengan kinerja di sektor industri pengolahan dijelaskan dengan pendekatan analisi dari sisi penawaran dan sisi permintaan, dari sisi penawaran, UKM di sektor pertanian tidak mengalami supply bottleneck akibat depresiasi rupiah seperti yang banyak dialami oleh UKM di sektor industri pengolahan. Alasan utamanya adalah karena UKM di sektor pertanian tidak terlalu tergantung pada impor bahan bakku dan input lainnya dan juga tidak pada kredit perbankan, sedangkan di sektor industri pengolahan banyak sekali UKM yang memakai bahan baku, alat-alat produksi dan input lainnya yang diimpor, serta yang membiayai produksinya dengan pinjaman dari bank atau dari UB lewat program-program kemitraan usaha yang dipelopori pemerintah pada zaman Soeharto. Selain itu, selama krisis banyak orang yang di PHK di sektor industri pengolahan, kembali ke desa asalnya dan membuka usaha pertanian skala kecil, dan ini tentu menambah jumlah unit UKM di sektor tersebut. Dari sisi permintaan, pasar domestik untuk komoditi-komoditi pertanian luar negeri semakin terbuka karena daya saing harga dari komoditi-komoditi pertanian di Indonesia mengalami peningkatan pada saat nilai tukar rupiah mengalami penurunan.
            Keterkaitan ini mengandung dua hipotesis yang pernah diuji secara empiris di dalam sejumlah studi. Hipotesis pertama: dari sisi permintaan, semakin banyak penduduk dan semakin besar tingkat kemiskinan atau semakin lebar kesenjangan dalam distribusi pendapatan di suatu wilayah, semakin banyak UK, khusunya UMI di wilayah tersebut. Karena pada umumnya usaha dari katagori ini membuat barang dan jasa dengan harga yang relatif murah bagi segmentasi pasar dari kelompok pembeli yang berpendapatan rendah. Hipotesis kedua: dari sisi penawaran, semakin banyak jumlah pengangguran atau semakin besar angka kemiskinan di suatu daerah semakin banyak kegiatan-kegiatan UK di daerah tersebut, karena umumnya, UK di LDCs atau negara-negara berpendapatan rendah berfungsi sebagai he last resort atau sumber pendapatan tambahan. Hasil pengujiannya empiris.
            Perusahaan atau usaha pertambangan rakyat adalah suatu usaha baik secara kelompok maupun perorangan yanng melakukan kegiataan pengambilan endapan bahan galian berharga dan bernilai ekonomis dari kulit bumi, baik dengan cara mekanis maupun dengan cara manual pada permukaan bumi, di bawah permukaan bumi dan dibawah permukaan air secara komersial, di mana usaha tersebut tidak mempunyai badan hukum dan atau tidak mempunyai surat izin kuasa pertambangan (KP). Usaha listrik non PLN adalah usaha ketenagalistrikan yang dikelola oleh perusahaan/usaha non PLN yang meliputi usaha pembangkitan, transmisi, industri dan usaha lainnya, gedung kantor, penerangan jalan umum, dan sebagainya (BPS).
            Kontribusi UK terhadap pembentukan PDB yang lebih kecil dibandingkan kontribusinya terhadap kesempatan kerja atau rasio NO/L-nya yang rendah sebenarnya menunjukkan bahwa tingkat produktivitas di UK relatif rendah dibandingkan di UM dan UB. Tingkat produktivitas dapat diukkur secara individual dari masing-masing faktor produksi atau input yang digunakan dalam produksi seperti L dan K (PP) atau diukur dari FTP, yaitu produktivitas dari faktor-faktor produksi secara total. Karena data mengenai K(dan input-input lainnya) di UK, khususnya di LDCs seperti Indonesia sangat terbatas, sedangkan data jumlah L sangat mudah diperoleh, maka tingkat produktivitas UK biasanya diukur dari rasio NO atan NT terhadap jumlah L yang digunakan di UK.
            Perbedaan ini mungkin sekali disebabkan lebih tingginya ketergantungan UM dibandingkan UK terhadap impor (M) bahan baku, komponen lainnya dan terhadap kredit dari sektor perbankan.
            Keunggulan komparatif yang dimiliki UK Indonesia terutama sifatnya yang padat karya dalam membuat produk-produk teertentu terutama barang-barang kerajinan, dan bahan baku yang berlimpah. Sayangnya, dalam hal keunggulan kompetetif, UK Indonesia relatif masih lemah terutama dalam SDM di bidang manajemen, pemasaran, proses produksi yang modern atau lebih maju, inovasi dan penguasaan teknologi.
            Sektor ini, khusunya petambangan, sangat didominasi oleh UB dan hal ini sangat dimengerti karena secara umum kegiatan pertambangan harus dilakukan dalam skala besar dan sangat membutuhkan modal serta tenga kerja terampil dalam jumlah besar.
            Di negara-negara maju, pada umumnya UK melakukan ekspor secara langsung tanpa bantuan pihal lain atau tanpa oerantara pedagang. Sedangkan di negara-negara sedang berkembang, kebanyakan UK melakukan ekspor lewat pedagang atau dibantu sepenuhnya oleh pemerintah. Di Indonesia, banyak studi seperti dari Weijland, sandee serta Tambunan dan Kiddie yang menunjukkan peran strategis pedagang dalam kegiatan produksi dan pemasaran dari UK, khusunya di daerah pedesaan.
            Bagi setiap unit usaha dari semua skala dan di semua sektor ekonomi, era perdagangan bebas dan globalisasi perekonomian dunia di sti sisi akan menciotakan banyak kesempatan. Namun di sisi lain juga menciptakan banyak tantangan yang apabila tidak dapat dihadapi dengan baik akan menjelma menjadi ancaman. Bentuk kesempatan dan tantangan yang akan muncul tentu akan berbeda menurut jenis kegiatan ekonomi yangn berbeda. Globalisasi perekonomian dunia juga memperbesar ketidakpastian terutama karena semakin tingginya mobilisasi modal, manusia, dan sumber daya produksilainnya serta semakin terintegrasinya kegiatan produksi, investasi dan keuangan antarnegara yang antara lain dapat menimbulkan gejolak-gejolak ekonomi di suatu wilayah akibat pengaruh langsung dari ketidakstabilan ekonomi di wilayah lain. Jumlah UKM bertambah teru s-menerus setiap tahun.

-         Target Konsumen
Semua kalangan dan usia bisa menjadi target pasar peluang usaha.

-         Info Bisnis
Lokasi dagang sebaiknya dekat dengan keramaian. Lokasi starteginya antara lain di pinggir jala raya, di dekat perkantoran, atau perumahan. Penjual nasi goreng bisa berjualan terpisah atau berkumpul dengan pedagang makanan lain.

-          Kelebihan
Buat menu biasa dicari orang yang lapar dan malas memasak pada malam hari. Selain itu, cocok juga dimakan saat cuaca dingin, membuat hangat badan karena di masak pada waktu itu juga.

-          Kekurangan
Kebosanan pengunjung terhadap makanan ini. Dan persaingan pasar dengan produk sejenis.

-          Pemasaran
Promosi usaha antara lain dengan memasang spanduk atau papan nama di tempat usaha. Sediakan lampu dengan penerangan yang cukup saat berjualan pada malam hari sehingga dapat terlihat dari kejauhan. Jika perlu buat papan nama yang dilengkapi lampu.

Contoh-Contoh Peluang Jenis Usaha Kecil dan Menengah :

1.      Jasa Pijat Urut dan Massage.
            Tentu anda tahu bahwa banyak orang yang senang dengan yang namanya pijat, urut atau massage. Karena memang pemijatan membuat badan rileks karena darah mengalir dengan lancar ataupun juga menyembuhkan penyakit karena otot kejang atau persendian terkilir. Tapi seringkali teramat susah mencari tukang pijat yang bisa dipanggil datang kerumah. Biasanya tukang pijat atau tukang urut hanya mangkal dirumah sendiri dan menunggu pasien. Lalu bagimana bila ada pasien yang memerlukan pijat urut namun tidak bisa mendatangi tempat pemjatan? Rasanya perlu ada jasa pemijatan yang bisa di panggil untuk datang kerumah pasien dan ini bisa menjadi peluang usaha kecil buat anda. Anda bisa memijat, mungkin anda bisa mencoba ide ini. Untuk promosi usaha anda bisa membaca promosi secara konvensial atau promosi usaha melalui media internet. 
2.    Jasa Potong Rambut
            Potong rambut tentu harus dilakukan secara berkala kan? Setidaknya tiap bulan sekali setiap orang potong rambut, bahkan ada yang lebih cepat dari itu. Nah jika anda bisa mencukur rambut, anda bisa menjalani peluang usaha kecil ini dengan cara berkeliling menggunakan sepeda dan tidak hanya mangkal disuatu tempat menunggu pelanggan. Cara promosi juga dapat dilakukan dengan cara diatas.
3.      Jasa Setrika Baju
            Saat ini banyak sekali orang dengan kesibukan yang luar biasa, sampai mengurus pakaian sendiri saja keteteran, terutama menyetrika. enyetrika memang merupakan kegiatan yang memboankan. Anda bisa menwakan jas tersebut kepada orang disekitar anda, baik dengan mendatangi tempat mereka atau anda bisa menerima pakaian yang akan disetrika. Untuk promosi ikuti langkah tersebut diatas.
4.      Jasa Mempromosikan usaha Orang Lain
            Peluang usaha kecil dengan modal minimal yang satu ini justru membantu apa yang dikerjakan oleh para pekerja diatas dengan membantu empromosikan usaha mereka. Anda bisa membuat semacam brosur kecil yang dpat anda buat di komputer dan anda sebarkan ke tempat-tempat yang strategis. Selain itu juga dapat memposting promosi usaha di internet. bayaran dapat anda atur antara anda dengan pembeli jasa anda.

BAB III
KESIMPULAN

            Usaha Kecil dan Menengah akan menjadi salah satu tiang ekonomi rakyat yang paling kuat di Indonesia .

SUMBER ::
Buku Perekonomian Indonesia, Dr.Tulus T.H. Tambunan
-          programukm.blogspot.com
-          id.wikipedia.org/wiki/Usaha_Kecil_dan_Menengah
-         www.tontowi.com/.../jadilah-pengusaha-usaha-mikro-kecil-dan-menengah-umkm-dengan-menemukan-sebuah-bisnis-online.php

Jumat, 01 April 2011

Perindustrian

BAB I
PENDAHULUAN

            Industri adalah bidang mata pencaharian yang menggunakan ketrampilan dan ketekunan kerja dan penggunaan alat-alat di bidang pengolahan hasil-hasil bumi dan distribusinya sebagai dasarnya. Maka industri umumnya dikenal sebagai mata rantai selanjutnya dari usaha-usaha mencukupi kebutuhan (ekonomi) yang berhubungan dengan bumi, yaitu sesudah pertanian, perkebunan dan pertambangan yang berhubungan erat dengan tanah. Kedudukan industri semakin jauh dari tanah, yang merupakan basis ekonomi, budaya dan politik.

BAB II
ISI
 
            Dalam sejarah pembangunan ekonomi, konsep industri berawal dari revolusi industry pertama pada pertengahan abad 18 di Inggris dengan penemuan metode baru untuk pemintalan dan penenunan kapas yang menciptakan spesialisasi dalam produksi dan peningkatan produktivitas dari factor produksi yang digunakan. Setelah itu, inovasi dan penemuan baru dalam pengolahan besi dan mesin uap yang mendorong inovasi dalam pembuatan antara lain besi baja, kereta api dan kapal tenaga uap. Revolusi industry kedua akhir abad 18 dan awal abad 19 dengan berbagai perkembangan teknologi dan inovasi membantu laju industri. Setelah PD II muncul berbagai teknologi baru seperti produksi masal dengan menggunakan assembly line, tenaga listrik, kendaraan bermotor, penemuan barang sintetis dan revolusi teknologi komunikasi, elektronik, bio, computer dan penggunaan robot.
            Sektor industri manufaktur di banyak Negara berkembang mengalami perkembangan sangat pesat dalam tiga decade terakhir. Asia Timur dan Asia Tenggara dapat dikatakan sebagai kasus istimewa. Lebih dari 25 tahun terakhir, dijuluki a miraculous economic karena kinerja ekonominya sangat hebat. Dari 1970 hinga 1995, industry manufaktur merupakan contributor utama.
Untuk melihat sejauh mana perkembangan industry manufaktur di Indonesia selama ini, perlu dilihat perbandingan kinerjanya dengan sector yang sama di Negara-negara lain. Dalam kelompok ASEAN, misalnya kontribusi output dari sector industry manufaktur terhadap pembentukan PDB di Indonesia masih relative kecil, walaupun laju pertumbuhan output rata-ratanya termasuk tinggi di Negara-negara ASEAN lainnya. Struktur ini menandakan Indonesia belum merupakan Negara dengan tingkat industri yang tinggi dibandingkan Malaysia dan Thailand.
            Secara umum, industri manufaktur di Negara-negara berkembang masih terbelakang jika dibandingkan dengan sector yang sama di Negara maju, walaupun di Negara-negara berkembanga ada Negara-negara yang industrinya sudah sangat maju. Dalam kasus Indonesia, UNIDO (2000) dalam studinya mengelompokkan masalah yang dihadapi industry manufaktur nasional ke dalam 2 kategori, yaitu kelemahan yang bersifat structural dan yang bersifat organisasi.

Faktor-faktor Industri :
1.      Modal.
2.      Tenaga Kerja
3.      Bahan mentah/bahan baku.
4.      Transportasi.
5.      Sumber energi/tenaga.
6.      Marketing/pemasaran hasil output produksi.

Faktor Penunjang atau Faktor Pendukung :
1.      Kebudayaan masyarakat.
2.      Teknologi.
3.      Pemerintah.
4.      Dukungan masyarakat.
5.      Kondisi alam.
6.      Kondisi perekonomian.

Faktor penghambat industri :
1.      Modal yang kurang.
2.      Tidak ada SDM yang sesuai dengan kebutuhan.
3.      Hasil produksi kualitas yang buruk.
4.      Pemasaran yang buruk.
5.      Daya beli masyarakat yang rendah.

Sektor-sektor organisasi :
1.      Sektor industri hulu (upstream), meliputi produksi serat (natural fiber dan man-made fiber atau synthetic) dan proses pemintalan (spinning) menjadi produk benang (unblended dan blended yarn). Sektor ini bersifat padat modal, teknologi menengah dan modern-full automatic, skala besar, jumlah tenaga kerja relatif kecil. 
2.      Sektor industri menengah (midstream), meliputi proses penganyaman (interlacing) benang menjadi kain mentah lembaran (grey fabric) melalui proses pertenunan dan perajutan (weaving danknitting) kemudian diolah lebih lanjut melalui proses pengolahan (dyeing, finishing dan printing) menjadi kain-jadi. Industri ini bersifat semi padat modal investasi dan modal kerja, teknologi madya dan modern-berkembang terus, jumlah tenaga kerja lebih besar dari sektor industri hulu.
3.      Sektor industri hilir (downstream), yaitu industri pakain jadi (garment) termasuk proses cutting, sewing, washing dan finishingyang menghasilkan ready-made garment. Sifat industri ini padat modal kerja, padat karya-sebagian besar wanita.

Masalah-masalah :
1.      Rendahnya produktivitas pekerja.
2.      Kekurangan tenaga professional.

Kelemahan-kelemahan struktur di antaranya:
1.      Basis ekspor dan pasarnya yang sempit.
·         Empat produk, yakni kayu lapis, pakaian jadi, tekstil dan alas kaki memiliki pangsa 50% dari nilai total manufaktur.
·         Pasar tekstil dan pakaian jadi sangat terbatas.
·         Tiga Negara (US, Jepang dan Singapura), menyerap 50% dari total ekspor manufaktur Indonesia, sementara US menyerap hampir setengah total nilai ekspor tekstil dan pakaian jadi.
·         Sepuluh produk menyumbang 80% seluruh hasil ekspor manufaktur.
·         Banyak produk manufaktur padat karya yang terpilih sebagai produk unggulan Indonesia mengalami penurunan harga di pasar dunia akibat persaingan ketat.
·         Banyak produk manufaktur yang merupakan ekspor tradisional Indonesia mengalami penurunan daya saing.
2.      Ketergantungan impor yang sangat tinggi.
3.      Tidak adanya industri teknologi menengah.
4.      Konsentrasi regional.

Kelemahan-kelemahan organisasi, di antaranya:
1.      Industri skala kecil dan menengah (IKM) masih underdeveloped.
2.      Konsentrasi pasar.
3.      Lemahnya kapasitas untuk menyerap dan mengembangkan teknologi.
4.      Lemahnya SDM.

Promosi Ekspor (outward-looking)
Strategi Industri :
1.   Strategi Subtitusi Impor.
o Lebih menekankan pada pengembangan industry yang berorientasi pada pasar domestik.
o Strategi subtitusi impor adalah industry domestic yang membuat barang menggantikan impor.
o Dilandasi oleh pemikiran bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dicapai dengan mengembangkan industry dalam negeri yang memproduksi barang pengganti impor.

Pertimbangan yang lajim digunakan dalam memilih strategi ini adalah :
a.       SDA dan factor produksi lain (terutama tenaga kerja) cukup tersedia.
b.      Potensi permintaan dalam negeri memadai.
c.       Pendorong perkembangan sector industry manufaktur dalam negeri.
d.      Dengan perkembangan industry dalam negeri, kesempatan kerja lebih luas.
e.       Dapat mengurangi ketergantungan impor.

2.      Penerapan strategi subtitusi impor dan hasilnya di Indonesia.
o Industry manufaktur nasional tidak berkembang baik selama orde baru.
o Ekspor manufaktur Indonesia belum berkembang dengan baik.
o Kebijakan proteksi yang berlebihan selama orde baru menimbulkan high cost economy.
o Teknologi yang digunakan oleh industry dalam negeri, sangat diproteksi.

3.      Strategi Promosi Ekspor.
o Lebih berorientasi ke pasar internasional dalam pengembangan usaha dalam negeri.
o Tidak ada diskriminasi dalam pemberian insentif dan fasilitas kemudahan lainnya dari pemerintah.
o Dilandasi pemikiran bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dicapai jika produk yang dibuat di dalam negeri dijual di pasar ekspor.
o Strategi promosi ekspor mempromosikan fleksibilitas dalam pergeseran sumber daya ekonomi yang ada mengikuti perubahan pola keunggulan komparatif.

4.      Kebijakan industri.
o Dirombaknya system devisa sehingga transaksi luar negeri lebih bebas dan sederhana.
o Dikuranginya fasilitas khusus yang hanya disediakan bagi perusahaan Negara dan kebijakan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan sector swasta bersama-sama dengan BUMN.
o Diberlakukannya Undang-undang PMA.

Cabang industri yang ada di Indonesia :
§  Makanan dan minuman.
§  Tembakau.
§  Tekstil.
§  Pakaian jadi.
§  Kulit dan barang dari kulit.
§  Kayu, barang dari kayu, dan anyaman.
§  Kertas dan barang dari kertas.
§  Penerbitan, percetakan, dan reproduksi.
§  Batu bara, minyak dan gas bumi, dan bahan bakar dari nuklir.
§  Kimia dan barang-barang dari bahan kimia.
§  Karet dan barang-barang dari plastik.
§  Barang galian bukan logam.
§  Logam dasar.
§  Barang-barang dari logam dan peralatannya.
§  Mesin dan perlengkapannya.
§  Peralatan kantor, akuntansi, dan pengolahan data.
§  Mesin listrik lainnya dan perlengkapannya.
§  Radio, televisi, dan peralatan komunikasi.
§  Peralatan kedokteran, alat ukur, navigasi, optik, dan jam.
§  Kendaraan bermotor.
§  Alat angkutan lainnya.
§  Furniture dan industri pengolahan lainnya.

BAB III
KESIMPULAN

          Dalam konteks penyerapan tenaga kerja, maka harus disadari bahwa penciptaan lapangan kerja akan terjadi jika adanya pabrik-pabrik baru dan perluasan pabrik lama. Ini artinya, diperlukan investasi, baik asing maupun domestik. Investasi baru akan terjadi bila ada perbaikan pada faktor-faktor: keamanan, kepastian hukum dan peraturan, kebijakan pemerintah (moneter, fiskal, energi, ketenagakerjaan, otonomi daerah) yang kondusif. Oleh sebab itu, investasi merupakan faktor utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang pada gilirannya dapat menciptakan kesempatan kerja.

Sumber :
-          http://id.wikipedia.org/wiki/Industri